Ketika Suatu Daerah Naik Kelas

“Naik Kelas”. Istilah tersebut kami sampaikan di hadapan sosok Kepala Daerah di suatu kabupaten di Kalimantan Tengah. Kami sampaikan hal itu ketika memaparkan program community development di sebagian wilayah yang dipimpin oleh kepala daerah tersebut.

Istilah ‘Naik Kelas’ sendiri¬† kami dapat dari petikan motivasi Bapak Rhenald Kasali yang menggambarkan kondisi perubahan tingkatan dari suatu tingkat atau keadaan ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Dan, istilah tersebut kami kira tepat ketika menggambarkan kondisi daerah beserta warga masyarakat di era tahun 2008 yang lalu ketika perusahaan kami masuk ke desa yang sunyi dengan keterbatasan sarana dan prasarana infrastruktur, pendidikan, kesehatan serta akses ekonomi lainnya.

Kini, di tahun 2012, warna desa yang nyaris tidak berwarna sekarang sudah berubah naik kelas. Desa sudah mulai nampak anggun dengan banyaknya rumah-rumah berwarna-warni, ruko serta pasar yang tersedia setiap hari.Warga pun sudah mulai sibuk di siang hari hingga malam hari untuk bekerja sebagai karyawan tambang yang berada di sekitar desa. Ekonomi di daerah ini kian bersinar terang.

Pelbagai sarana sosial yang dibangun perusahaan nampak serasi dengan gairah pembangunan tersebut. Kantor desa yang baru dibangun demikian kokoh, mess perumahan guru, taman bacaan anak, sekolah, bangunan listrik desa hingga sarana air bersih untuk warga masyarakat.

Kami sampaikan kepada Kepala Daerah bahwa ada beberapa warga yang membeli sarana untuk dijadikan usaha untuk mensuplai material ke perusahaan maupun hasil tani sayuran untuk dimasukkan ke katering perusahaan.

Semoga hal ini menambah bukti adanya keserasian hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar untuk berjalan beriringan demi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Dan semoga dapat dijadikan teladan bagi perusahaan lainnya ketika berinvestasi di suatu daerah yang marginal agar daerah-daerah lainnya dapat mengalami percepatan untuk naik kelas.

Amar Abdillah
Penggiat Corporate Social Responsibility dan owner www.itsibitsy.com dan www.almira-shop.com

Nyanyian Almira

Almira sekarang ini sudah 3,6 tahun. Diusianya sekarang ini anak cantik ini tambah lucu. Banyak polah dia yang lucu dan rasa ingin tahunya semakin menjadi-jadi.

Saat ini anak cantik ini punya nyanyian yang dia bawa dari sekolahannya di PG Aditya. Nah! bagaimana nyanyiannya? Mau tahu? Mau Tahu? (bergaya Ust. Maulana….. hehehe)

Judul lagu : Kumaha

Kategori : Lagu pendek

 

KUMAHA

Kumaha narina Ayah ?      

Ayah teh narina kieu 

Tah kieu kieu kieu

Tah kieu kieu kieu

Keterangan tambahan :

1. kata Ayah biasanya diganti dengan nama orang lain seperti : Vivo, Teh Neneng,dll…

2. Agar lebih khidmat, lagu ini harus sambil joged2 gaya Almira

Terjemahan dari lagu diatas :

BAGAIMANA

Bagaimana narinya Ayah

Ayah itu narinya gini

Nah! gini gini gini

Nah! gini gini gini

Silaturahmi Mendekatkan Hati

ImageKabarnya ketika semut bertemu sesama dengan temannya mereka bersalaman dan saling bertegur sapa…¬†

Seorang tokoh pemuda di salah satu desa di Kalimantan mengajak ngobrol dalam suatu sore hari yang cerah sempurna. Ia dengan semangat bercerita bahwa dulu pernah ke suatu daerah di Jawa Barat dan bertamu di sebuah rumah. Disela-sela obrolan yang menyenangkan dengan yang punya rumah, Ia disuguhi minuman teh yang disuguhkan dalam gelas bening sehingga nampak warna teh yang cokelat keemasan. Ah! Sungguh mengundang selera, terlebih keharuman teh hangat tersebut memenuhi setiap sudut ruangan tamu rumah.

Setelah dipersilahkan meminumnya, Ia kemudian mengambil gelas teh tersebut dan langsung menghirup aroma khas dan memenuhi indra penciumannya, dengan tidak sabar lalu Ia mulai menyeruput teh. Tapi seketika Ia sedikit terkejut mengingat rasa hidangan teh berbeda ketika tahu bahwa teh tersebut berasa aneh dilidahnya.

Ia baru sadar ternyata teh yang dihidangkan tersebut tidak sesuai dengan kebiasaan di daerahnya, Ia memimpikan teh tersebut manis, tapi ternyata rasa tawar teh tersebut melumuri lidahnya. Ia pun terkekeh mengingat peristiwa tersebut. Dan, saya sampaikan bahwa jangan menganggap orang sunda itu pelit, karena hal tersebut adalah kebiasaan yang ada di sebagian daerah kami. Lalu saya menambahkan bahwa di keluarga saya pun terbiasa meminum teh tawar, rasanya sungguh lezat.

Cerita diatas akan senantiasa berkesan bagi tokoh pemuda tersebut. Dan, begitu pula dengan saya. Banyak kesan yang terekam dalam memori hati ini ketika berkunjung atau saya lebih suka dengan menyebutnya silaturahmi ke masyarakat. Setiap rumah yang dikunjungi berbeda-beda, cara menyambut tamu tergantung kebiasan masing-masing, yang pasti senyuman yang punya rumah akan senantiasa tersungging indah menyambut kedatangan kita. Baiklah! Saya setuju penuh dengan mereka yang menyatakan bahwa orang Indonesia ramah-ramah.

Berkunjung ke rumah penduduk merupakan kegiatan keseharian yang wajib dilakukan seorang penggiat program community development. Tanpa silaturahmi, tidak akan mungkin sosok penggiat community development dapat dikenal dan diterima oleh masyarakat.

Ketika pertamakali menyusun program dan budget program community development di PT. Astra Agro Lestari Tbk., Pada awalnya saya merasakan keanehan, karena program pertama yang ada dalam penyusunan program tersebut adalah SILATURAHMI, untuk para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, pemerintahan desa, pemerintahan kecamatan, pemerintahan kabupaten hingga provinsi. Pada form program tersebut saya harus mengisinya dengan berapa kali saya harus bersilatuhrami dengan para tokoh-tokoh tersebut dalam satu bulan.

Pertanyaannya adalah kenapa demikian pentingnya silaturahmi sehingga harus menjadi point pertama dalam program dan budget community development? Kenapa tidak langsung merinci ke program-program yang akan dilaksanakan?.

Seiring perjalanan waktu, saya belajar sambil praktek pada bidang ini, dan mendapatkan kenyataan bahwa dengan silaturahmi saya sering mendapatkan kopi gratis, air teh manis gratis dan makanan lokal yang tentunya gratis dari warga. Wah! Enaknya jadi penggiat comdev ya!. Lebih tepatnya saya mendapatkan pemahaman bahwa silaturahmi merupakan media yang wajib dilaksanakan oleh seorang penggiat comdev. Beberapa pemahaman mengenai silaturahmi tersebut adalah :

  • Silaturahmi menjadikan saya lebih mengenal masyarakat yang akan kita bina
  • Silaturahmi menjadikan saya lebih memahami karakter, kebiasaan dan keseharian masyarakat
  • Silaturahmi memberikan pemahaman mengenai masalah yang terjadi di dalam rumah tangga masyarakat maupun masyarakat pada umumnya. Dan, ini sangat berguna untuk menjadi masukan bagi pembuatan program selanjutnya
  • Silaturahmi memberikan pemahaman mengenai kondisi ekonomi, pendidikan, kesehatan dan kondisi sosial keagamaan lainnya dari warga masyarakat
  • Silaturahmi memberikan pemahaman kondisi faktual mengenai siapa saja tokoh masyarakat di desa yang saya bina
  • Silaturahmi menjadikan saya menambah rejeki
  • Silaturahmi menambah saudara dan teman bahkan keluarga

Untuk point terakhir itu menjadi kebanggan tersendiri bagi saya, karena pada Tahun 2010, ketika bertugas sebagai penggiat Comdev di salah satu wilayah di Nanggroe Aceh Darussalam, saya diangkat menjadi keluarga oleh salah satu tokoh masyarakat. Hal ini menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Bagaimana tidak, memiliki keluarga di kampung orang lain yang jauh dari keluarga sendiri menjadikan menitikkan air mata haru, saya mendapatkan tempat mengadu, berkeluh kesah, bersenda gurau. Dengan silaturahmi juga saya mendapatkan banyak saudara dan kerabat angkat.

Amar Abdillah
Penggiat Corporate Social Responsibility pada Astra Internasional Group
Pemilik¬†www.itsibitsy.com¬†‚Äď Pusat barang unik No 1 di Indonesia

Manasay yo Manasay

Image

 

Namanya hiburan jarang terjadi di sebuah pedalaman nan sunyi. Ketika sekali-kali ada hiburan, semesta warga berdatangan dari pelbagai penjuru desa. Salah satu acara peringatan itu adalah hari kemerdekaan di Bulan Agustus yang menjadi agenda hiburan rutin setiap tahunnya. Betapa beruntung bagi saya dapat menikmati tontonan lomba karaoke dan lomba joged selama 7 malam berturut-turut di sebuah desa yang sunyi di Kalimantan. Dan, bisa ditebak selama 7 malam tersebut, malam yang biasanya sunyi senyap menjadi hingar bingar oleh musik karaoke, malam yang gelap gulita karena listrik belum masuk di daerah ini menjadi terang benderang oleh lampu dari mesin genset yang dengan setia menerangi kemeriahan malam-malam peringatan kemerdekaan. Warga desa berjubel memenuhi lapangan bola di tengah-tengah desa. Semesta pun bergembira.

Sehari sebelumnya kepala desa mengundang saya untuk turut serta dalam kemeriahan tersebut. Dan, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak hadir bukan. Hei! Kesempatan untuk menikmati kemeriahan malam peringatan kemerdekaan bersama-sama warga desa akan menjadi malam yang amat menyenangkan. Dan ternyata saya tidak salah untuk memutuskan datang.

Malam pertama kemeriahan tersebut diawali dengan salah satu tarian adat dayak. Pada awalnya saya memastikan diri sebagai penikmat saja acara tersebut, akan tetapi teriakan sang host acara berkali-kali agar perwakilan perusahaan turut menari membuat saya tersentuh untuk ikut serta. Sedikit malu-malu saya dituntun kepala desa masuk arena tari. Ah! ratusan pasang mata mendorong saya untuk dengan segera masuk arena tari. Beruntungnya saya tidak sendiri, beberapa rombongan anak baru gede dengan semangat masuk arena juga. Dan! Tunggu dulu. pejabat desa sudah duluan ternyata. Lumayan banyak lah. Tapi ternyata arena tari belum cukup penuh untuk menahan serombongan ibu-ibu dan nenek-nenek yang dengan senyuman indah mereka melangkah memasuki arena. Oh! Nenek-nenek ikut serta juga. Betapa sempurnanya malam ini, saya mengira acara ini khususon untuk anak muda. Jadi, lengkaplah sudah arena ini dipenuhi para peserta tari dadakan. Saya celingukan menyadar-nyadarkan diri kalau saya bisa menari dengan indah jelita.

Beruntungnya sang kepala desa menyemangati saya agar menari dengan riang dan memastikan bahwa tariannya itu mudah. Lalu, mulailah musik adat dibunyikan. Dimulailah tarian Manasay, sebuah tari untuk kebersamaan. Gerakan tari pun dimulai. Dengan canggung mata saya memutar mencari tokoh tari jempolan dari setiap peserta. Maksudnya, kalo ada tarian yang bagus, akan saya contek. Namun, ajaibnya pandangan mata pertama saya tertuju pada sang kepala desa yang tinggi tegap bak seorang tentara. Goyangan tari sang kepala desa ini jauh dari kesan penari yang indah gemulai sempurna, yang ada adalah tarian khas poco-poco khas tentara. Oh! Saya merasa berada di daerah timur Indonesia.

Akhirnya saya memutar arah lagi mencari tokoh tari idola lainnya. Pandangan kedua tertuju pada nenek yang berada tidak jauh dari tempat saya berdiri. Gerakannya agak sedikit asing tapi menarik hati saya. Gerakan nan ritmis dan penuh penghayatan nampaknya. Amboi!. Mungkin nenek tersebut penari pada saat mudanya, tapi saya tidak bisa meniru gerakan sehebat itu. Anak baru gede yang berada di seberang saya bergerak dan bergoyang dengan riangnya. Tangan dan kaki serta goyang pinggul demikian beraneka, mengingatkan saya pada gerakan tarian modern Yuanita teman host Choky Sitohang yang saya kagumi gerakannya. Ah! susahnya gerakan mereka. Saya harus menentukan sikap mau mencontoh gerakan yang akan dipilih. Akhirnya dari sekian banyak pilihan saya lebih memilih gerakan sang kepala desa yang mirip gerakan tari tentara. Semoga jepretan kamera tidak mengenai saya disaat kondisi gerakan tari tidak seirama dengan musik.

Tari Manasay akhirnya masuk dalam daftar tarian idola saya. Tarian yang secara bersama-sama dilakukan oleh orang banyak dengan gerakan bergoyang, berjalan ritmis memutar dan beriringan menandakan kebersamaan yang harus senantiasa terjalin diantara semua orang. Keberanekaan tidaklah menjadi penghalang untuk melakukan kegiatan bersama-sama. Itulah tarian manasay yang apabila saya diminta untuk menari lagi, saya akan katakan “Saya siap!“.

Ketika menjadi penggiat comdev di Riau dahulu, saya menyempatkan memakai pakaian melayu “teluk belanga“. Pakaian khas laki-laki yang dipakai ketika upacara-upacara khusus adat maupun pemerintahan. Pakaian tersebut dipadupadankan dengan kain sarung yang dilipat di pinggang, peci hitam dipakaikan di kepala, rambut hitam saya sudah diberi minyak terlebih dahulu dan sudah disisir dengan rapi jali sebelum memakai peci. Bak seorang bangsawan kerajaan melayu, saya mematut-matut diri di cermin untuk melihat kegagahan saya berpakaian melayu.

Ketika acara-acara resmi, biasanya terlebih dahulu dilaksanakan tari persembahan melayu. Inilah salah satu tarian yang menjadi pavorit saya. Mata saya akan terus mengikuti setiap gerakan penari yang sangat indah. Saking terpesona dan menikmati rentak gendang, gemulai tarian serta lagu dengan cengkok khas melayu akhirnya saya memborong beberapa kaset lagu melayu.

Bersentuhan dengan adat istiadat serta kesenian di suatu wilayah akan senantiasa dirasakan oleh para penggiat community development. Bukankah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dan disinilah salah satu letak keistimewaan seorang penggiat community development, dimana bekerja secara lintas adat, lintas budaya dan lintas agama.

Keberadaan adat istiadat di suatu daerah dengan seperangkat kelembagaan dan aturan-aturannya tidak boleh disepelekan. Keberadaannya beriringan dengan tumbuh dan berkembangnya perusahaan ketika budaya perusahaan dapat berasimilasi dengan tatanan nilai adat istiadat setempat. Akan tetapi juga dapat menjadi batu penghalang ketika norma adat tidak dihormati.

Amar Abdillah
Penggiat Corporate Social Responsibility pada Astra Internasional Group
Pemilik¬†www.itsibitsy.com¬†‚Äď Pusat barang unik No 1 di Indonesia

Bahagia itu sederhana

Kelahiran seorang anak akan selalu membahagiakan bagi orang tuanya. Linangan air mata bahagia sepasang suami isteri akan mengalir deras ketika tangisan pertama bayi membahana. Senyuman bahagia disertai ungkapan rasa syukur dan doa akan terbit dari setiap keluarganya.

Kabar gembira tentang kelahiran seorang anak sampai juga ke telinga kami dari seorang Ibu Bidan di sebuah desa di pelosok Kalimantan yang sedang berbenah diri dalam pembangunan. Seorang anak lahir dari pasangan yang selama ini kami kenal aktif dalam setiap program pengembangan masyarakat yang kami lakukan.

Ibu Bidan menyampaikan bahwa bayi lahir normal. Namun sayang, sang Bunda dari bayi tersebut terkena infeksi saluran kemih sehingga tidak bisa buang air kecil. Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Ibu Bidan yang masih sangat muda  untuk  mengobati sang Bunda malang tersebut. Dengan kekhawatiran yang mendalam,  Bidan  tersebut berharap jangan sampai pasiennya dirujuk ke Puskesmas di Ibukota Kecamatan terlebih ke Ibukota Provinsi di Palangkaraya, karena jaraknya yang terlalu jauh.

Pada  hari kedua kelahiran anak tersebut, datanglah sepucuk surat ke perusahaan kami berupa permohonan transportasi untuk berangkat ke Palangkaraya. Rencananya Ibunda bayi tersebut akan dirujuk ke rumah sakit yang lengkap peralatannya.

Ketika dulu Almira, puteri cantik kami lahir dan bilirubinnya tinggi hingga mencapai 18, padahal normalnya 10. Kami sangat sedih karena setiap hari kami harus pulang pergi ke Rumah Sakit Tedja untuk mengantar ASI untuk si Cantik Almira, karena si Cantik Almira harus disinari dahulu agar kembali normal.

Kembali ke cerita Ibunda bayi yang tidak bisa buang air kecil tadi. Suami dari Ibu malang itu kenal dekat dengan kami karena beliau aktif di program pengembangan masyarakat yang kami laksanakan. Selanjutnya kami meluncur ke rumahnya dan langsung bertemu keluarga kecil tersebut.

Kami mendapati wajah yang cerah dari suami Ibu tersebut. Dengan senyuman yang tulus beliau bercerita bahwa Isteri tercintanya sudah dapat buang air kecil sehingga tidak jadi rujuk ke Palangkaraya. Keluarga kecil tersebut senang, kami pun senang. Tak lupa beliau juga menjelaskan Kakak dari bayi tersebut yang kemarin ikut training operator dump truck yang dilaksanakan dari program community development kami, sekarang ini sudah masuk kerja di salah satu perusahaan tambang di desanya. Ah! betapa sempurna kebahagiaan keluarga tersebut.

Oh ya! Nama bayi tersebut diberi nama Septi. Orang tua bayi tersebut meminta agar Ibu Bidan  memberi nama bayinya sebagai penghargaan karena membantu persalinan. Entah sudah berapa nama yang diberikan oleh Ibu Bidan muda untuk bayi-bayi yang lahir di desa yang berada di pedalaman Kalimantan Tengah tersebut.

Kami pun pulang dengan wajah penuh senyuman. Gembira karena melihat sebuah keluarga yang sedang berbahagia. Kebahagiaan ternyata tidak dalam bentuk yang megah, wah! ataupun mahal. Kebahagiaan dapat muncul dengan cara yang sederhana seperti bahagia ketika melihat orang lain bahagia.

 

Amar Abdillah
Penggiat Corporate Social Responsibility pada Astra Internasional Group
Pemilik www.itsibitsy.com РPusat barang unik No 1 di Indonesia

Pilih sehat atau sakit?

Tanggal 19 Maret 2011 yang lalu aku menjalani medical check up di salah satu labotarorium kesehatan untuk sebuah test kesehatan bagi calon karyawan. Kiranya perlu datang kembali untuk diambil darah lagi. Dan… itulah yang membuat deg-degan. Ada apa dengan darahku? Menunggu merupakan hal yang paling menjemukan terlebih dengan berbagai prasangka negatif dengan hasil darah…

Beberapa hari kemudian akhirnya hasil test dikirim oleh HR perusahaan. Beliau menyampaikan bahwa hasil test thorax-nya bermasalah (Minimal Lesion TB), sehingga perlu konsul dengan Dokter Specialis. Duh!!! masuk jadi karyawan tersebut tertunda deh… Tapi, yang menjadi pertanyaan (setelah membaca hasil test MCU) adalah : Kenapa laboratorium tersebut yang membuat kesimpulan “ditunda menjadi karyawan”. Bukannya Lab tersebut hanya memberikan data dan rekomendasi saja?. Tapi tak apalah… yang penting diagnosa tersebut membuatku sadar bahwa ada sesuatu yang salah dengan thorax-ku. Alhamdulillaah-nya hasil test darah normal, urin normal, dan fisik normal. ;p

Selanjutnya Jum’at Sore aku konsul ke RSUD dan menanyakan Dokter Specialis dan dianjurkan untuk datang lagi pada Hari Sabtu-nya.

Hari Sabtu, menunggu di waiting room-nya Dokter Specialis sambil menutup mulut dengan tissue yang baru dibeli di apotik. Duh! kalo positif terkena TB bisa dibayangkan aku “perlu” mengucilkan diri dari sekitar agar orang-orang disekitarku yang kucintai tidak tertular bakteri-ku.ūüôā. Terutama perlunya menjaga dari Almira kecilku biar tak tertular. Sedihnya…

Dokter memberikan penjelasan bisa saja salah baca hasil foto itu. Akhirnya beliau meminta agar dilakukan foto rontgen ulang. Pada siang itu juga kuberlari ke ruangan radiologi dan “merengek-rengek” agar hasilnya siang itu juga. Hehe… Dan berhasil!! Petugas rediologi memberi hasilnya setengah jam kemudian. Terimakasih ya Mbak… Semoga anda masuk surga, diberikan tambahan rejeki dan sehat senantiasa.. Amiin…

Sore harinya setelah bertemu dengan Bos besar dari Batavia di kantor. Kupinjam mobil menuju klinik Doker specialis. di Waiting Room banyak kali orang yang sakit. Duh… ada yang sudah parah dan sudah keluar uang banyak untuk penyakit sejenis ini. Kalau betul aku mengidap penyakit TBC, aku harus disiplin minum obat agar tidak seperti mereka dan sembuh total di usia muda.

Setelah menyerahkan hasil MCU, Dokter meyakinkanku bahwa…………….. Plek-nya sudah lama (penulisan plek betul gak ya? maklum orang sunda..hehe…). Dan sembuh dengan sendirinya, serta tidak menular!… Dan, aku langsung ceria… Alhamdulillaah… terima kasih ya Allaah…

Dua tahun yang lalu aku perokok aktif. Berbagai macam merek kuhisap, bahkan sambil naik motor sempet-sempetnya ngisap rokok. Itu dulu! sekarang benci kali liat orang merokok sambil mengendara motor. Tapi, belum tentu karena rokok terkena sakit itu ya. Mungkin sebab lain atau tertular dari orang lain.

Kembali kuucapkan Alhamdulillaah atas segala nikmat sehat, nikmat kesembuhan atas gejala penyakit yang ternyata sembuh dengan sendirinya. Terimakasih atas semua rejeki dan nikmat yang sudah Allah berikan.

Kecemasan akhirnya hilang, dan saat ini sedang menunggu datangnya kesempatan baru.

 

Alhamdulillaah…

Amar Abdillah (Owner www.tokotasku.com)